Article Detail


Membangun Integritas Digital di Era AI, SMA Tarakanita Gading Serpong Gelar Workshop Bersama Praktisi Teknologi

SMA Tarakanita Gading Serpong menyelenggarakan workshop bertajuk “Membangun Integritas Digital di Era Kecerdasan Buatan” di aula sekolah. Kegiatan ini bertujuan memperkuat literasi digital serta menanamkan nilai-nilai etis dalam penggunaan teknologi kepada peserta didik di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Antusiasme tersebut mencerminkan kepedulian peserta didik terhadap isu integritas digital pada era modern.

 Acara dibuka oleh pembawa acara Agatha Kelly Wijaya (XII-4) bersama Ibu Agatha Susanti Loman Lengari, S.Pd. Rangkaian kegiatan diawali doa, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Tarakanita. Kepala SMA Tarakanita Gading Serpong, Bapak Yustinus Sumayanto, M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya pendidikan moral sebagai landasan karakter peserta didik dalam menghadapi perkembangan teknologi modern.

 Workshop menghadirkan narasumber Bapak Eugenius Kau Sari, S.T., M.T., seorang praktisi teknologi, akademisi, serta dosen Sistem Informasi Universitas Katolik Atma Jaya. Beliau juga dikenal sebagai kreator konten dan content manager di platform Snack Video. Materi disampaikan secara interaktif melalui tanya jawab antarsiswa, sehingga suasana belajar menjadi lebih aktif dan menyenangkan.

 

 Dalam paparannya, Bapak Eugenius menjelaskan perkembangan pesat AI yang didukung machine learning, natural language processing, hingga penggunaan bahasa pemrograman Python. Beliau juga mengajak peserta didik memahami risiko penggunaan AI serta pentingnya etika digital, termasuk menghormati hak cipta, menghindari plagiarisme, dan menggunakan teknologi sebagai pendukung kreativitas, bukan pengganti kemampuan manusia.

Untuk menimalkan dampak negatif penggunaan kecerdasan buatan, peserta didik perlu menghormati hukum dan mematuhi peraturan ujian yang berlaku. Selanjutnya, penting bagi peserta didik untuk menetapkan tujuan pembelajaran yang jelas sebelum memanfaatkan AI. Chat GPT dapat digunakan sebagai mitra menulis untuk membantu merangkum materi atau menyusun ide secara efektif. Selain itu, siswa dianjurkan melakukan literasi dan berdiskusi dengan Chat GPT agar pemahaman terhadap materi lebih mendalam. Penggunaan Chat GPT juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan coding dan pengembangan proyek. Siswa harus selalu waspada terhadap risiko yang mungkin muncul saat menggunakan Chat GPT, termasuk ketergantungan atau penyalahgunaan informasi. Sebelum memulai, disarankan membaca daftar periksa yang tersedia di akhir bagian untuk memastikan penggunaan AI lebih aman dan efektif.

 Sesi tanya jawab semakin memperkaya wawasan siswa. Matthew Linggar (XI-1) menanyakan dampak AI terhadap karya kreatif, sementara Valencia Karen (XII-7) menyoroti potensi pengalihan pekerjaan oleh AI. Narasumber menegaskan bahwa AI harus dimanfaatkan sebagai alat kolaboratif dan perlu diimbangi pelatihan agar manusia tetap berperan sebagai pengambil keputusan utama.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik menggunakan ChatGPT. Peserta didik diberi waktu menuliskan ide, mengembangkan gagasan menjadi paragraf, dan mempresentasikannya. Salah satu topik yang mencuri perhatian adalah Tarakanita Green Washing, yang menyoroti komitmen sekolah terhadap kebijakan bebas plastik dan kepedulian lingkungan.

Melalui workshop ini, peserta didik memperoleh pemahaman mendalam tentang pemanfaatan AI secara etis, bertanggung jawab, dan kreatif. Kegiatan ini juga mendorong terbentuknya karakter digital yang berintegritas serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis di era teknologi. Diharapkan nilai-nilai yang diperoleh dapat diterapkan para siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di masyarakat.

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment